Kekerasan di televisi mempengaruhi perilaku anak
Perilaku kekerasan kerap terjadi di berbagai tempat, terutama di kota-kota besar. Modus operandi "kekerasan" pun bermacam-macam, bahkan sudah semakin canggih. Kekerasan mencuat setiap hari melalui koran, televisi dan radio. Pembaca dan pemirsa disuguhkan fakta serta data yang bisa mendirikan bulu roma.
Televisi merupakan sarana komunikasi utama di sebagian besar masyarakat kita, tidak terkecuali di masyarakat barat. Tidak ada media lain yang dapat menandingin televisi dalam hal volume teks budaya pop yang diproduksinya dan banyaknya penonton. Tayangan Televisi harus di atur karena mempengaruhi sikap dan perilaku khalayak khususnya bagi yang belum memiliki referensi yang kuat (anak-anak & remaja). Terlebih karena televisi bersifat audio visual sinematografis yang memiliki dampak besar terhadap perilaku khalayaknya seperti pengaruh jarum suntik terhadap manusia.
Tayangan-tayangan di televisi saat ini mempunyai kecendrungan mengabaikan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Hal ini terlihat dari ditonjolkannya eksploitasi sex, kekerasan, budaya konsumerisme dan hedonisme. Bahkan pada masa remaja normal, semakin banyak kekerasan yang mereka lihat, semakin berkurang aktifitas berfikir, belajar, melakukan pertimbangan, dan kontrol emosi pada otak. Pada sisi lain, berbagai bentuk tayangan yang memuat adegan kekerasan seks dan tema dewasa lainnya akan terus bertambah intensitasnya.
Peristiwa tawuran pelajar yang menampilkan aksi 'preman' calon generasi penerus sering jadi tayangan aktual televisi swasta. Begitu juga, berita-berita pembunuhan, pemerkosaan dan kekerasan yang berdarah-darah secara bebas ditayangkan televisi swasta. Etika atau keharusan moral untuk melindungi nama baik 'tersangka' seringkali dilanggar oleh insan pers khususnya oleh mereka yang ada di bilik berita stasiun televisi swasta.
Sebagai salah satu dari 'materi pemikat' tayangan berita, kekerasan atau berita-berita seputar konflik menjadi primadona dalam pemberitaan media massa. Seolah, Jakarta akan aneh bila tak ada berita soal kejahatan atau kekerasan di media massa ibukota. Koran Poskota, Sinar Pagi, Lampu Merah, Rakyat Merdeka, Merdeka, Pelita yang terbit di Jakarta, tak pernah melewatkan satu halaman pun untuk berita soal kekerasan, kejahatan.
Demikian pula, televisi swasta seakan berlomba-lomba menyajikan berita atau informasi yang terkait dengan kekerasan. SCTV bahkan punya acara khusus yang membahas berita-berita atau kejadian kriminal, begitu juga RCTI, Indosiar dan stasiun televisi lainnya.
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa menonton kekerasan dalam televisi membuat anak-anak menjadi lebih agresif dan sebagian peneliti menganggap bahwa kekerasan televisi sebagai sebab kenakalan remaja. Para ahli lain berpendapat bahwa kekerasan televisi tidak berpengaruh atau media itu hanya khatarsis atau sebagai katup pelarian bagi emosi kekerasan yang ada di dalam jiwa manusia. Tidak semua anak menjadi agresif, tentu saja namun korelasi antara kekerasan dan agresi adalah positif.
Anak-anak yang menonton televisi boleh jadi belajar untuk menerima perilaku keras bahkan seksual sebagai suatu hal yang normal. Dan dalam interaksi tatap muka, anak-anak itu meniru perilaku-perilaku agresif yang mereka lihat dalam televisi. Hubungan antara kekerasan televisi dan perilaku agresif ini terdapat pada anak-anak laki-laki dan anak perempuan dan pada anak-anak pra sekolah hingga usia remaja akhir.
Efek menonton kekerasan televisi dapat lebih halus dan meluas. Terdapat bukti bahwa sebagai pemirsa kadang-kadang seseorang juga belajar menjadi korban dan mengidentifikasikan diri dengan korban. Laporan tahun 1982 itu menyebutkan bahwa banyak pemirsa mengidentifikasikan diri dengan korban.
Gara-gara menonton dan terpengaruh, kesukaan anak-anak tersebut akan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kejadian yang mengancam juga berkurang. Misalnya, mereka yang sebelumnya senang berenang akan takut berenang lagi karena melihat dramatisasi televisi soal peristiwa tenggelam.
Dalam hal ini orang tua memiliki peran penting dalam mengontrol tayangan-tayangan televisi yang di tonton oleh anak. Orang tua harus bisa menyeleksi mana tayangan yang bisa ditonton oleh anak dan mana yang tidah bisa ditonton oleh anak.dan orang tua pun hendaknya dapat menemani anaknya menonton dan dapat membimbing anaknya agar tidak mencontoh tayangan-tayangan yang ada di televisi. Membatasi waktu nonton anak juga merupakan suatu kontrol yang dilakukam orang tua terhadap anak. Jadi, dengan begitu anak anak akan memiliki waktu yang banyak untuk belajar selain nonton televisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar