INFOTAINMENT VS MASYARAKAT
Di zaman teknologi dan informasi ini, tiada media yang paling berpengaruh selain televisi. Berjuta-juta orang, termasuk anda begitu banyak menghabiskan waktu dan kontak anda dengan media ini. Di ruang keluarga, kamar tidur, lobi hotel, bahkan di dalam kendaraan pun televisi telah ada. Program televisi yang dikemas sedemikian rupa, disajikan dengan format audio visual, mengkonstruksi pikiran publik secara tak sadar. Hal ini membuat perusahaan pertelevisian berlomba-lomba merebut perhatian pemirsa dengan berbagai acara yang disajikan, mulai dari berita, sinetron, kuis, infotainment, sampai realitas buatan yang disulap menjadi fakta objektif.
Yang menjadi permasalahannya saat ini adalah banyak acara televisi yang kurang memperhatikan kepentingan publik. Seharusnya sebagai media yang begitu memberikan pengaruh terhadap masyarakat, diharapkan dapat memberikan nila-nilai positif, bukannya hanya mementingkan keuntungan perusahaan dengan menyampingkan aspek dan dampak negatifnya. Dan hal inilah yang juga tejadi pada acara infotainment, yang sudah menjadi kebutuhan mayoritas masyarakat Indonesia, terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga serta remaja perempuan. Konstruksi pemirsa infotainment dibangun berdasarkan stereotipikasi terhadap sifat perempuan yang suka bergosip. Yang perlu kita garis bawahi lagi adalah acara tersebut begitu mendominasi.
Infotainment merupakan jenis tayangan televisi yang cukup populer dewasa ini. Tingginya popularitas jenis tayangan ini bisa dibuktikan dengan semakin beragamnya nama tayangan infotainment yang menemui pemirsa. Walaupun semakin beragamnya nama tayangan infotainment, namun keberagaman nama ini tidak diikuti oleh keberagaman format acara infotainment. Anehnya di tengah kualitas infotainment yang begitu-begitu saja, infotainment tetap digandrungi para pemirsa. Infotainment juga tidak terlewat ikut meramaikan kompetisi perebutan rating di kisaran waktu ini. Bukti lain yang memperlihatkan kedigdayaan infotainment adalah jumlah jam tayang infotainment, yang menurut sebuah survey yang dilakukan Dewan Pers di Jakarta tahun 2006, mencapai empat belas jam dalam satu hari dan mengisi 63% acara televisi di Indonesia. Setidaknya setiap minggu 125 program tayangan infotainment dijual berbagai stasiun televisi dengan berbagai nama yang beraneka ragam.
Harus diakui bahwa yang namanya public figure itu adalah tokoh sorotan dan terkadang panutan. Masyarakat selalu menunggu kabar terbaru dari public figure favoritnya.
Sebenarnya yang namanya public figure atau selebritis tidak hanya artis, yang berprofesi sebagai bintang film, sinetron, penyanyi, musisi, presenter kondang, dan lain sebagainya, tapi juga politikus, ustadz, olahragawan, dan lainnya. Meskipun begitu harus diakui masyarakat kita lebih tinggi untuk mengidolakan artis dibanding politikus dan lainnya. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya program infotainment.
Sebenarnya yang namanya public figure atau selebritis tidak hanya artis, yang berprofesi sebagai bintang film, sinetron, penyanyi, musisi, presenter kondang, dan lain sebagainya, tapi juga politikus, ustadz, olahragawan, dan lainnya. Meskipun begitu harus diakui masyarakat kita lebih tinggi untuk mengidolakan artis dibanding politikus dan lainnya. Hal inilah yang melatarbelakangi adanya program infotainment.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan infotainment. Hanya saja tayangan infotaiment dewasa ini lebih banyak memberi pengaruh negatif bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Pemirsa kita disuguhi tayangan-tayangan rahasia pribadi para selebriti kita, mulai dari gaya hedonisme mereka, cara pacaran mereka, pernikahan terselubung mereka, perselingkuhan mereka, pisah ranjang mereka, perceraian mereka, hingga kemampuan seks mereka, semuanya dijadikan tontotan. Layakkah itu kita perlihatkan pada anak-anak? Kita contohkan saja kasus yang masih hangat saat ini, yaitu kasus Ariel Peterpen yang diekspos terang-terangan di media massa, apakah mereka memikirkan dampak secara luas terhadapa masyarakat? Dan semua ini terbukti dengan berita yang menyatakan bahwa anak-anak telah mengetahui yang namannya “pencabulan” dan melakukan pemerkosaan. Dan itu semua lagi-lagi karena pengaruh infotainment.
Dampak negatif lainnya adalah membuat anak-anak terbiasa dengan kata-kata, suara, dan tontonan yang tidak senonoh yang membuat pola pikir mereka mengarah kepada hal-hal yang negatif. Hal ini terbukti jika kita membuat servei mengenai jumlah anak-anak yang mengenal hal-hal yang berbau pornografi, tindak kekerasan, dan lain sebagainnya yang belum layak dikrtahui oleh anak di bawah umur. Berapa banyak anak anak yang mengetahui kata-kata “cinta”, “nikah siri”, “selingkuh”, “istri simpanan dan lain sebagainya.
Selain itu, infotainment juga memberikan pengaruh buruk pada masyarakat yang mencontoh kehidupan selebriti. Mereka mengembangkan sikap-sikap tertentu, suka atau tidak, kepada tokoh yang ditampilkan seperti mereka berkomentar terhadap orang-orang yang dikenalnya. Lebih jauh lagi, gaya hidup para selebriti pun akhirnya diadopsi menjadi gaya hidup anggota masyarakat lainnya. Dan hal ini juga sedikit memprihatinkan karena terkadang ada sebagian masyrakat yang tidak sanggup mengikuti gaya hidup sang idola dan akhirnya menjadi stres, sakit jiwa, dan gila.
Dampak lainnya adalah sedikit demi sedikit masyarakat kita akan suka mencari-cari kejelekan orang lain dan mengunjingkannya. Orang cenderung lebih senang melihat kejelekan dan penderitaan orang lain dan tidak suka terhadap kesuksesan orang lain.
Dan kalau sikap bermasyarakat kita menjadi sedemikian bobroknya karena terbiasa dicekoki tayangan-tayangan seperti itu sehingga orang cenderung kurang menghargai kerja keras, akan tetapi malah timbul rasa iri dan dengki. Siapa yang akan bertanggung jawab?
Dan kalau sikap bermasyarakat kita menjadi sedemikian bobroknya karena terbiasa dicekoki tayangan-tayangan seperti itu sehingga orang cenderung kurang menghargai kerja keras, akan tetapi malah timbul rasa iri dan dengki. Siapa yang akan bertanggung jawab?
Masih banyak lagi pengaruh infotainment yang sadar atau tidak telah berpengaruh pada diri kita. misalnya kebiasaan kita menggosip yang sebenarnya dilarang dalam islam. Saya pernah mendengar suatu hadist yang isinya “mengatakan sesuatu tentang orang lain itu dilarang. Apabila benar apa yang kita ucapkan maka jadilah ia upat, dan apabila salah apa yang kata ucapkan maka jadilah ia fitnah. Dan kau pasti tahu ganjaran keduanya”.
Seharusnya infotainment itu tidak hanya memaparkan hal-hal pribadi sang artis. Kalau saja infotainment lebih banyak menyorot jalan hidup sang artis dari ia berjuang dulu hingga berhasil seperti sekarang, mungkin itu bisa dijadikan batu loncatan dan semangat bagi masyarakat untuk lebih giat, berjuang dan berusaha untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan. Andai saja infotainment itu lebih banyak menyinggung hal-hal positif sang artis, mungkin kekhawatiran kita tidak perlu diungkapkan lagi.
Saya pribadi berharap semoga infotainment dapat berubah menjadi leebih baik dan menjadi program tv yang berbobt dan bermanfaat untuk masyarakat. Namun, apabila hal itu tidak dapat kita ubah, maka tugas kita lah untuk menjaga anak-anak dan adik-adik kita dari tontonan yang dapat merusak etika dan moral. Jika hal itu tidak kita lakukan dari sekarang, maka saya khawatir akan terjadi krisis moral di bangsa ini. Dan jika hal ini terjadi maka saya pastikan tinggal menunggu waktu hingga kita benar-benar hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar